Sebetulnya, Arjuna tak pernah menyesali tentang kehadiran Bima, yang saat ini menjadi sebagian dari hidupnya.
Riuh ricuh terdengar keras bersautan dengan amarah massa yang sampai saat ini belum mereda. Kebijakan yang dibuat para tuan di atas sana membuat mereka marah, kecewa, bukan semata-mata atas berubahnya aturan yang ada, namun karena terinjaknya raga oleh mereka yang berada di atas sana.
Orasi terus berkumandang, berharap para tuan dan puan yang terhormat terenyuh untuk duduk dan mendengar apa yang rakyat suarakan.
Di sana, dengan raga yang berdiri gagah, peluh yang menetes dari wajah, dan sepercik harapan yang masih tertadah, Arjuna bersuara dengan amarah. Amarah atas apa yang terjadi pada negerinya, atas terinjaknya harga diri teman-temannya, dan ketidakadilan yang dirasakan bangsanya.
Sebetulnya inginnya tidak banyak, ia hanya ingin negara menjadi lebih baik agar layak ditinggali sang adik. Arjuna selalu mengusahakan yang terbaik, dari hal sekecil rela tak makan demi adiknya bisa merasakan bagaimana rasanya tidur tanpa kelaparan, hingga hal sebesar kepalanya dijadikan incaran karena menyuarakan keadilan agar tempat yang ditinggali adiknya menjadi lebih aman.
Arjuna masih di sana, ia tidak gentar atas selongsong senapan yang diarahkan padanya. Ia hanya punya keyakinan. Keyakinan bahwa adiknya tidak boleh merasakan kehidupan semencekam dirinya.
“Bapak dan ibu yang terhormat, kami tidak takut. Kami tidak akan mundur sebelum peraturan yang bapak dan ibu tetapkan diubah sesuai dengan kepentingan rakyat. Kalian seharusnya menjadi perwakilan suara kami, lantas sekarang suara siapa yang kalian wakilkan?”
Suaranya lantang, penuh dengan keberanian tanpa ada rasa gentar dalam jiwanya.
Arjuna masih di sana, berdiri dengan gagah tanpa tahu apa yang sedang direncanakan para pemerintah terhadapnya.
Di sisi lain, Bima ternyata ada di sana. Niatnya hanya mencari sang kakak ketika berita rusuhnya aksi terdengar di telinganya. Sebetulnya, Bima sudah dilarang datang oleh Arjuna, tapi Bima tetaplah Bima yang selalu ingin membersamai kakaknya.
Bima bersumpah pada dirinya, ia rela melakukan apa saja demi sang kakak. Menurutnya, kakaknya sudah terlalu banyak berkorban untuknya. Bima tahu, setiap kali Arjuna berkata ia tidak lapar sebenarnya Arjuna sangat lapar, tapi uang yang mereka punya hanya cukup untuk membeli satu porsi makan.
Bima kerap kali berbohong tentang dirinya yang sudah makan di kediaman temannya, atau mendapat makan dari kegiatan kampusnya. Sebenarnya ia lapar, tapi Bima tahu Arjuna lebih lapar, kuliah dan bekerja di waktu yang bersamaan untuk menyambung kehidupan.
Aksi mulai rusuh, gas air mata ditembakkan ke segala arah, peluru karet yang seharusnya tidak digunakan berterbangan di udara.
Bima berusaha mencari kakaknya, menerobos kerumunan massa sampai akhirnya netranya beradu pandang dengan tatapan yang ia kenal.
Bima tahu, Arjuna marah saat berusaha menghampirinya. Ia tahu ia akan mendapat makian atau teriakan. Matanya terpejam takut, namun bukannya mendengar teriakan ia hanya mendapat pelukan. Pelukan erat, seolah ada rasa takut yang mendekap.
“Lo ngapain?! Gue udah bilang jangan ke sini, bisa dengerin gue gak barang sekali?!”
Bima tahu kakaknya marah, tapi ia merasa Arjuna ketakutan.
•••
Arjuna mengenali netra yang melihatnya. Ia menghampirinya dengan rasa takut dan banyak pertanyaan di kepalanya.
Sejak kapan adiknya di sini? Apa saja yang ia lihat? Apa ada aparat yang berusaha melukai adiknya? Apa Bima baik-baik saja?